Tag

Kenapa orang selalu mengeluh menderita? dan hampir setiap orang selalu mempunyai derita, sakit, susah dan entah apalagi yang menunjukkan emosi negatif. Padahal mereka mempunyai penghasilan katakanlah lebih dari cukup, eh ternyata mereka masih saja kurang dengan pencapaiannya selama ini. Mempunyai istri cantik tapi cerewet atau mempunyai suami kaya tapi sering marah-marah, mempunyai anak-anak lucu tapi katanya nakalnya minta ampun. Itulah derita menurut mereka. Saya baru tahu dari mereka bahwa ternyata mempunya istri cantik tidak selalu membuat bahagia, ada saja alasannya takut diambil orang atau cerewetnya minta ampun.

Kadang ada ungkapan yang lagi populer di jejaring sosial, ‘muda sukses tua kaya raya mati masuk surga’ sekilas tidak ada ungkapan yang salah dari pernyataan diatas, malah kita sebenarnya berharap dan bercita-cita seperti itu yaitu ‘mudah sukses tua kaya raya mati masuk surga’, tp itu adalah ungkapan yang sebenarnya membuat efek berbahaya yang didalamnya ada derita, susah, sakit jika ‘keinginan’ itu tidak tercapai.

Ada ungkapan puitis dari seorang tercerahkan seperti Jalaluddin Rumi yaitu ‘ ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, namun penderitaan menunggu di kamar tidur’, nah artinya bahwa dualisme kebahagiaan dan penderitaan sebenarnya ada di dalam tubuh kita, dekat dan sangat berdekatan. Nasehat Rumi diatas bahwa jangan terlalu senang dan janganlah terlalu sedih atau susah karena pada hakekatnya dualisme antara senang dan sedih itu adalah tipuan, ilusi dan bersifat sama saja di alam Quantum.

Penyebab Penderitaan                                                                       Penyebab dari semua penderitaan yang dialami oleh hampir semua orang sebenarnya bermacam-macam penyebab. Namun dari sekitan banyaknya penyebab dari segala derita, susah, sakit atau perasaan negatif lainnya adalah karena ‘Kegagalan dalam melihat Ultimate reality’.

Apakah Ultimate reality itu? Ultimate reality merupakan kenyataan yang utama atau kenyataan dalam melihat dan merasakan Tuhan semesta alam. Saya lebih suka menyebut istilah Ultimate reality karena bahasa ini bahasa universal. Mungkin definisi Ultimate reality agak rumit dan terlalu dalam, . Saya akan menjelaskan lebih sederhana lagi dengan mengambil ciri-ciri orang yang gagal dalam melihat Ultimate reality adalah orang selalu ‘menggenggam yang positif dan selalu menendang yang negatif’. Maaf saya ulangi lagi kita selalu memeluk, mencengkeram hal-hal yang positif dan selalu melarikan diri, membuang hal-hal yang negatif.

Jadi ketika timbul dan datang perasaan negatif tsb, tindakan kita adalah HADAPI. Hadapi yang negatif dan hadapi yang positif. janganlah terlalu menggenggam yang positif lantas menendang yang negatif, tapi Hadapi. Seyogyanya derita, sakit, susah itu datang silih berganti dengan senang, bahagia, sehat secara bergantian seperti awan di langit kadang mendung dan hujan kemudian berganti lagi menjadi cerah, silih berganti.

Derita dan sakit adalah pintu gerbang menuju kebahagiaan sejati, menuju pencerahan sejati. Nabi Muhammad saw menderita dan sakit tatkala di kejar-kejar dan dimusuhi oleh kaum Quraisy, Nelson Mandela dipenjara 27 tahun, Dalai lama pada umur 16 tahun sudah kehilangan negaranya, dan sampai sekarang hidup di pengasingan, Muhammad Yunus peraih Nobel perdamaian hidupnya ditengah kemiskinan bangsa Bangladesh, Bunda Teresa seluruh hidupnya berada di tengah kemiskinan dan penderita kusta. Tapi mereka melaluinya dengan menghadapi yang negatif dan derita tersebut sebagai bahan bakar menuju pencerahan spiritualnya. Mereka menghadapinya.!

Penyebab orang menendang yang negatif dan menggenggam yang positif.   Penyebab dari itu semua adalah hanya satu yaitu mereka masih belum melepaskah Ego. Jadi penyebab dari orang yang selalu menggenggam yang positif dan selalu menendang yang negatif adalah ke-Aku-an atau Egonya yang masih tebal menyelimuti hati mereka. Akhir dari semua penyebab derita diatas segalanya bermuara pada Ego. Solusinya adalah melepaskan kemelekatan Ego yang masih menempel di hati kita.

Semakin besar Ego, semaki besar pula penderitaan kita. Hal yang bisa kita lakukan untuk menumpas ke-Aku-an atau ego adalah dengan jalan meditasi. Didalam meditasi yang hening itu, kita akan menemui dan mengenal segala riak-riak ego kita, datang silih berganti yang negatif maupun positif. Kita hanya bisa ‘menyaksikan’ semua perasaan tersebut. Kita peluk rasa itu, kita persilahkan rasa itu datang, nikmati perasaan itu lalu kita lepaskan dengan mengIKHLASkan semua rasa itu pergi dari hati kita dari kesadaran kita.