Tag

Judul di atas Automatic focus menggambarkan suatu keadaan yang akan mengarahkan arah dan perhatian kita secara otomatis pada satu hal yang satu tujuan, alangkah indahnya dunia seandainya kita setiap saat pun pikiran kita menjadi tenang dan rilex tanpa di ganggu oleh hal-hal yang membuat kepala kita menjadi berat. tidak hanya itu kita bisa menggunakan potensi terbesar kita dalam memecahkan masalah sehari-hari. dengan pikiran yang jernih dan tenang itu kita akan merasakan bahwa kehidupan sudah sempurna walaupun kelihatannya tidak sempurna.

Akan tetapi di dunia ini tidak ada suatu pencapaian yang dilakukan secara otomatis dalam hal ini mengakses potensi pikiran kita dikarenakan antara lain kita terjebak dalam program pikiran kita sendiri seperti perasaan-perasaan negatif, kecewa, menderita, egoistik dll. saya akan membahas tentang dualisme perasaan positif dan negatif di artikel tersendiri.  Baik saya lanjutkan bahwa perasaan negatif tersebut akan menekan pikiran bawah sadar kita untuk terus menerus membentuk belief-belief yaitu suatu kepercayaan seseorang terhadap sesuatu informasi didalam otak sesuai pengalamannya yang dianggap benar menurut kita tapi belum tentu benar menurut orang lain. itulah beberapa riak-riak penghambat keberhasilan dalam menjernihkan pikran kita.  dalam artikel ini saya akan membahas bagaimana kita meraih fokus pikiran supaya kita memiliki intuisi yang tajam dalam praktek kehidupan masa depan. kita tahu bahwa intuisi itu tercipta di dalam pikiran kita manakala pikiran dan hati kita bersih, tenang dan lepas dari segala program-program kotor yang menjadi hijab atau penghalang bagi inti diri kita dengan yang punya diri kita.

Intuisi adalah kapasitas batin yang membuat kita mengetahui sesuatu ketika nalar kita belum mengetahuinya. ini merupakan kemampuan atau kecerdasan hati (heart intelegensia) tanpa melalui tahap reasoning maupun concious analizing hingga kita menjawab dengan benar dan tepat. orang-orang sering mengatakan ikuti kata hatimu. ketika kita sudah sampai pada tahap ini kita benar-benar dituntun oleh Yang Maha Kuasa, keterhubungan inilah yang dimaksud pekanya pikiran jernih kita dengan arahan Tuhan, inilah intuisi. intuisi mengarahkan kepada kita jalan yang lurus.

Jalan yang lurus adalah bahasa jiwa (soul) adalah bentuk komunikasi dengan Yang Maha Kuasa. Disitulah kita kerap mendapatkan jawaban atas kualitas pertanyaan kita yang di dasari oleh sikap suasana hati yang ikhlas, dan ikhlas berarti keberserahan total kepada Tuhan. Keberserahan total akan tercipta ketika pikiran dan hati kita sinkron, serasi dan selaras. lah kondisi demikian timbul saat kita bermeditasi atau berzikir kepada Tuhan.

Bahasa Jiwa menurut Syekh Siti Jenar disebut aning-anung yang dalam sastra lisan disebut ana ning, ana nung. inilah alam asal segala yang ada. Di alam ini segala sesuatu berjalan damai, tenang, aman, dan bahagian dan bebas dari segala hiruk-pikuk. Disebut ana ning, ana nung karena ketika seseorang dapat mengheningkan dirinya, membuat hatinya wening alias jernih, maka lahirlah ana nung, yaitu keadaan yang mengarahkan pada suatu tujuan.

Aning atau ana ning adalah konsep mati dalam kehidupan atau mati sajroning urip. kemampan untuk hening jelas merupakan kemampuan untuk dapat mematikan segala angan-angan dan keinginan dalam hidup, meski sesaat. Biasanya kondisi ana ning ini didahului oleh laku atau aksi aneng atau ana neng (baca: negn seperti bunyi pada kata kalem). Artinya, sebelum tercapai suatu keheningan di dalam diri, terlebih dulu harus dilakukan tindakan meneng atau diam. Hati harus diam tak terusik oleh berbagai gangguan. Pikiran diam tak terpengaruh oleh gangguan yang berasal dari indra.

Untuk bsia meneng atau diam, ada ajaran yang dinamakan nutupi babahan hawa sanga (menutup sembilan lubang nafsu). Umumnya yang dimaksud dengan 9 lubang yang dapat mendatangkan nafsu adalah 2 mata, 2 telinga. 2 lubang hidung, 1 mulut, 1 kelamin, dan 1 dubur. Dalam cakupannya yang lebih luas, 9 lubang tersebut terdapat pada mata, telinga, hidung, mulut, kulit, susu, perut, kelamin, dan dubur. Lubang yang dimaksud pun bukan dalam arti harfiah, tetapi dalam makna lubang sebagai jalan bagi masuknya hawa nafsu.

Untuk mempraktikkan nutupi babahan hawa sanga, tentu saja tidak dengan menutupkan jari pada kedua luabng telinga dan lubang hidung, tetapi dngan melatih diri mengendalikan kesembilan lubang masuknya hawa nafsu. Hal ini dapat di samakan dengan puasa. Ketika kita merasa lapar disiang hari dan kita menyadari bahwa kita sedang berpuasa, maka kita tak akan mengambil makanan yang tersedia di meja sekecil apa pun. jadi dalam hal ini terjadi pelatihan puasa mata, telinga, hidung, mulut, kulit, susu (perasan seksual), perut, kelamin dan dubur.

setelah seseorang mampu mentup kesembilan lubang yang dapat membagnkitkan hawa nafsu, maka dia melanjutkan pada laku berikutnya, yaitu meditasi atau semati. Dari ana neng menuju ke proses ana ning. Dalam hal ini tak ada proses mengkonsentrasikan pikiran lewat duduk meditasi. Kemampuan menahan diri dari berbagai godaan lewat kesembilan lubang tersebut dengan sendirinya memudahkan proses berikutnya yang berupa mengheningkan diri.

Bila keheningan diei sudah dapat dicapai di berbagai keadaan, dengan sendirinya akan timbul anung atau ana nung. sang pelaku meditasi akan memperoleh petunjuk tentang apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. sang pelaku meditasi telah dunung atau mengetahui tujuan hidupnya. Ia taidak perlu ragu lagi dalam mengambil langkan. Ia sudah terintuisi. Ia sudah berada di jalan yang lurus. Ia akan melakukan sesuatu bukan karena pengaruh dari luar dirinya, tetapi semuanya tumbuh dan keluar dari kedalaman batin yang terjangkau oleh iblis. inilah ibadah kepada Allah yang sejati.