Di dalam kehidupan yang penuh dengan kompleksitas permasalahan terdapat dualisme kehidupan sakit sehat, sial beruntung, hidup mati, sedih senang, dll yang merupakan suatu keniscayaan yang harus kita hadapi untuk hidup, walau sebenarnya kita tidak menyadarinya apa arti dan makna dualisme tsb, kita selama ini hanya sebatas menjalani saja tanpa berpikir dan merasakan akan karunia dualisme dari Tuhan itu.

  Kita semua pernah mengalami kompleksitas masalah karier, percintaan, rejeki, maupun kesehatan yang tentunya semua ini hanyalah buah persepsi kita dalam memandang apapun sampai pikiran kita sendiri yang memberi label masalah berdasarkan belief dalam otak dan hasil olahan pengalaman kita dimasa lalu. Ketika pikiran kita sudah komplet memandang sesuatu menjadi “label masalah”, kita sebenarnya tidak sulit untuk mencari perbedaan respon tubuh kita terhadap “label masalah” kita tadi.

      Ada satu hal tunggal yang mengawali dan mengakhiri masalah dan ini sebenarnya siklus proses ketika lahirnya masalah dan berakhirnya masalah yaitu PERUBAHAN.

      Setiap masalah yang lahir, selalu diawali dengan “kondisi yang dapat diterima”, yang tiba-tiba atau berangsur-angsur BERUBAH menajadi “kondisi yang tidak dapat diterima”. Setiap selesainya atau tuntasnya suatu masalah, selalu ditandai dengan pergerakan dari “kondisi yang tidak dapat diterima” menjadi ”kondisi yang dapat diterima”.

Siklus Kehidupan yang Pasti Terjadi

      Dengan kata lain, siklus hidup selalu berputar antara : (1) kondisi MENERIMA kenyataan, (2) terjadi PERUBAHAN, (3) kondisi TIDAK MENERIMA kenyataan, (4) terjadi PERUBAHAN, (5) kondisi MENERIMAN kenyataan, (6) PERUBAHAN, dan seterusnya berulang terus hingga kehidupan ini usai. Kisah, situasi, peristiwa dan pemerannya bias berganti 1001 kali, tapi siklusnya tetap akan berulang seperti yang dijabarkan

Contohnya : ada seorang Pria muda tampan tiba-tiba kariernya naik melesat, kekayaannya bertambah dan mempunyai jabatan dan sukses dalam berorganisasi, tentunya hal ini tidak sulit untuk MENERIMA kenyataan hidupnya yang sukses. Tapi ketika kemudian kariernya menjadi suatu krisis, kekayaannya mulai habis dan mengalami ketidak percayaan teman-temannya didalam organisasi tentulah itu merupakan suatu kenyataan yang lebih sulit untuk diterima. Melalui berbagai upaya, doa dan perbaikan-perbaikan hidup kemudian dia mulai bisa menerima kenyataan hidupnya dengan berdamai dengan masalah hidupnya lagi. Namun kehidupan tidak berhenti disini karena terdapat serangkaian perubahan berikutnya silih berganti membawanya dari kondisi “terima” menjadi “tidak terima” dan seterusnya.

Contoh lain adalah kondisi jiwa seseorang yang menjadi sakit karena kondisi penyakit kronis yang dideritanya. Dari kondisi “terima” dimana hidupnya baik-baik saja, sehat-sehat saja tiba-tiba terjadi perubahan didalam hidupnya yang mengakibatkan kondisi yang sulit diterima karena mungkin dia kehilangan kesehatannya yang paling berharga. Namun pada saatnya, dia kembali akan berdamai dengan kenyataan, untuk sementara waktu hingga muncul perubahan baru yang akan hadir.

Benang Merah: “Perubahan” dan “Penerimaan”

   Dalam siklus yang kami ceritakan diatas, tidaklah sulit untuk memahami bahwa hidpu ini adalah tarian yang silih berganti antara perubahan dan penerimaan. Didalam tarian abadi ini, terseliplah pengalaman rasa kita yaitu stress, sedih, susah, bahagia, lega, kuatir, takut, cemas, sesal, dll.

      Pertama, marilah kita tengok mitra tarian pertama yang bernama “perubahan”. Perubahan adalah bagian paling alami dalam hidup, ada datang, ada pergi, ada untung, ada rugi, ada pertemuan dan ada perpisahan, ada sakit ada senang dan ada hipup ada mati. Tidak ada satupun termasuk orang suci yang bisa terbebas dari dualitas ini serta perubahan yang senantiasa terjadi.

      Sangat wajar jika kita ingin selalu sehat, senang, untung dan tidak ingin sakit, sedih dan sial. Namun kebijaksaan jiwa sejati hanya bisa tumbuh ketika kita mengerti dan menerima bahwa kedua sisi tersebut pasti akan hadir, tidak bisa dicegah, tidak bisa dipertahankan, karena kekuatan perubahan akan selalu mengayunkan nasib kita dari satu sisi ke sisi lainnya bagaikan roda kehidupan.

    Kata pepatah “satu-satunya yang pasti dalam hidup adalah perubahan”, maka kalau kita ingin nyaman dalam hidup, kuncinya adalah MENERIMA bahwa perubahan itu pasti ada dan perubahan tersebut bisa saja berubah kea rah manapun dan kapanpun juga.

Melatih otot Menerima

     Ketika kita mulai menyadari tentang perubahan tidak bisa kita atur atau kita kendalikan sesuai dengan kehendak dan kepentingan kita, maka kita mulai mencarinya kedalam yaitu ke Hati kita sesuai dengan sabda Rasulullah yaitu “Mintalah Fatwa pada Hati” dengan kepasrahan total mengembalikan pikiran dan perasaan kita kepadaNYA.  Jalan keluarnya adalah MENERIMA.

Usaha perlu atau tidak?

   Kalau sudah tiba pada kesimpulan bahwa hipup ini adalah pilihan antara menerima atau tidak menerima. Pertanyaan alamiah selanjutnya adalah apakah usaha masih diperlukan dalam hidup?

       Kita selama ini punya keyakinan yang mengatakan tidaklah mungkin kita memperoleh apa yang kita inginkan jika kita tidak berusaha memperolehnya? Namun kita juga punya kenyataan bahwa terkadang usaha pun tidak membawa perubahan hasil dan kenyataan. Kita juga merasa bahwa kadang usaha apalagi sampai ngoyo yang tidak diimbangi dengan keikhlasan dan kepasrahan total seringkali membawa rasa frustasi dan kepedihan.

Usaha dahulu atau menerima dahulu?

      Jalan keluar yang paling lazim kita tempuh ketika ingin mengubah kenyataan atau menyelesaikan suatu masalah adalah pertama-tama berusaha maksimal untuk menciptakan perubahan situasi dan menerima hasil akhirnya baik menerima dengan ikhlas maupun terpaksa. Ini yang kami namakan “acceptance before change” atau menerima sebelum terjadi perubahan.

     Jalan ini adalah ketika kita bisa mengerti bahwa perubahan pasti terjadi, dengan maupun tanpa usaha. Langkah pertama adalah menerima tanpa syarat apapun kenyataan yang ada saat ini, apapun perilaku dan sikap orang yang terlibat saat ini, apapun pikiran dan perasaan kita saat ini, apa pun perubahan yang hadir setelah kita sudah bisa menerima, jauh lebih mudah untuk menyambutnya dengan pikiran jernih dan hati yang lapang.

      Kita sendiri sebenarnya pernah menyaksikan atau mengalami sendiri penyakit fisik yang berat, masalah cinta yang sudah parah, hingga kesulitan rejeki bisa berbalik secara ajaib ketika hati sudah mencapai titik ikhlas menerima total keadaan. Ini sungguh sulit untuk di tulis maupun diungkapkan, Anda perlu keberanian untuk mengalamainya sendiri.

Langkah pertama dan terakhir untuk bahagia

      Buah pikiran terakhir dari tulisan ini adalah kita tidak akan merasa terpuaskan, tidak akan damai apalagi bahagia akan masalah kita kalau kita belum menerima dulu sebelum terjadi perubahan.

     Dahulu kami pikir kebahagiaan adalah mencapai apa yang kami inginkan. Namun sekarang kami melihat bahwa kebahagiaan adalah ketika tidak ada perselisihan antara keinginan dan kenyataan. Karena kenyataan tidak bisa kami kendalikan sepenuhnya, maka mengelola keinginan menjadi kunci kami untuk bahagia, dan kunci tersebut bernama : MENERIMA sepenuh hati.

     Pilihan dan upaya tidak menghasilkan kenyataan hidup saat ini. Pilihan dan upaya adalah permainan yag kita perlu lakukan demi tiba pada kesiapan untuk menerima dan berserah total pada takdir, hidup dan Tuhan