dari kiri ke kanan : Verdaus, Erbe Sentanu, Fendi

Saya sengaja menampilkan profil dari Erbe Sentanu, founder Katahati Institute, sebuah transformasi dan perusahaan manajemen hati. pengarang buku best seller Quantum Ikhlas dan Zona Ikhlas, karena saya juga anggota dan alumni Pelatihan yang diselenggarakan Katahati Institute.

Profil dan wawancara ini saya ambil di artikel situs majalah-hidayah.com yang berjudul ‘Menghijaukan Hati dengan Ikhlas’. Foto diatas diambil saat saya mengikuti pelatihan Heart Fokus selama 3 hari di Shangri-la Hotel, bersama sahabat sehati saya gan Verdaus dan Erbe Sentanu.

Di usianya yang sudah kepala empat (lahir 22 Mei 1964), wajahnya tampak masih muda dan energik. Apa rahasianya? Ikhlas menjalani hidup. Ya, begitulah resep Erbe Sentanu, seorang motivator muslim Indonesia ternama,  dalam memanjakan tubuhnya. Tentu, ia juga harus makan makanan secukupnya yang bergizi. Bagi sebagian orang, Mas Nunu –demikian Erbe Sentanu akrab dipanggil–telah menemukan inti hidup.

Perjalanan Nunu hingga pada titik seperti ini tidaklah mudah. Banyak liku yang harus ia lewati. Terutama saat berada di luar negeri, tepatnya di New Zealand, Selandia Baru; hatinya mengalami kegersangan. Lima tahun berada di sana untuk menuntut ilmu di Carington Technical Institute, Auckland (setelah setahun kuliah di Fakultas Ekonomi Trisakti dan selesai di Akademi Wiraswasta Dewantara Mercubuana tahun 1984), ternyata tidaklah semanis buah apel saat ranum atau teh bercampur gula. Nunu harus bertarung dengan banyak hal: kemandirian, persahabatan, dan spiritualitas. Pada akhirnya, ketiga unsur itu membawanya pada hati yang gersang.

“Saya bermimpi, suatu saat,  di kafe-kafe dan tempat-tempat dagang ada logo ikhlas….”

Selama di luar negeri, Nunu harus jauh dari teman dan orang tua yang bisa dijadikan sahabatnya saat susah ataupun duka. Nunu juga harus banting tulang mencari sesuap nasi. Sebab, ia pergi ke sana seperti dilepas begitu saja oleh orang tuanya. Ketika orang tua melepasnya pergi ke luar negeri, itulah saat terakhir baginya mendapatkan kasih sayang “bendawi” (materi). Nunu benar-benar dibiarkan untuk menjadi lelaki dewasa; mencari penghidupan sendiri.

Mulai dari kerja di rumah sakit hingga menjadi kuli bangunan, pernah ia lakoni selama di luar negeri. Malu, tentu saja. Tapi, ia berusaha melenyapkan segala pikiran negatif tersebut. Sebab, ia memang dituntut bekerja keras, tapi justru di sini pulalah ia menemukan inti hidup, yaitu ikhlas. Nunu harus melakoni semua pekerjaan rendah itu dengan ikhlas. Jika tidak, maka segalanya akan berat dilaluinya.

Kegersangan hati yang melanda Nunu tidak berhenti sampai di situ. Ini yang paling utama, yaitu ketika ia mengalami kesulitan untuk membebaskan sisi-sisi spiritualitasnya. Bagaimana sulitnya ia beribadah karena tak ada masjid dan mushala di sekitar tempat tinggalnya? “Aku shalat di mana saja,” ujarnya kepada Hidayah,  datar.

Hati Nunu begitu gersang atas semua itu. Kemandirian, persahabatan dan spiritualitas yang kosong membuat hatinya terasa hampa. “Aku benar-benar depresi dan stres kala itu,” ujarnya kembali mengingat-ingat.

Namun, serupa Isaac Newton yang menemukan hukum gravitasi karena memikirkan benda apel yang jatuh, itu pula yang dilakukan Nunu saat itu. Kondisi terpahit yang dirasakan hati Nunu kala itu, justru yang membuat dirinya kemudian merenung. Ia mencoba memikirkan tentang arti hidup yang sesungguhnya. Dalam bahasa Nanang Qosim (Naqoy), motivator muda yang tengaha naik daun, di sinilah Nunu akhirnya menemukan OMA (one minute awareness) –titik balik dalam kehidupannya.

Perjalanan Nunu untuk menggapai puncak spiritual bukan semata-mata karena pengalaman hidupnya yang demikian getir itu. Kegilaannya pada membaca, ternyata, sangat mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. “Saat hatiku gersang, aku lebih banyak pergi ke perpustakaan,” ujarnya.

Suatu kali di perpustakaan, ia menyambar sebuah buku yang jatuh dari rak. Buku itu karya Harold Bloomberg Ph.D, psikolog asal Amerika. Nunu melahap bacaan itu lembar demi lembar karena isinya begitu “pas” dengan kondisi batin yang sedang dirasakannya. Sebuah buku bagaimana mengelola stres dan depresi. Setelah membaca, hatinya pun sementara menjadi tenang.

Tidak itu saja, pembacaan Nunu pada beberapa karya, akhirnya menenggelamkan dia pada pemikiran-pemikiran brilyan yang dibawa oleh Deepak Chopra, Brian Tracy, Maharishi Mahesh Yogi, Sandy MacGregor, Shri Shri Ravi Shankar, Bill Harris, Hale Dwoskin, Wayne Dyer, james Redfield, Jon-Kabbat Zin, Ken Wilber dan sebagainya. Singkatnya, secara wacana, mereka telah mempengaruhi pemikiran Nunu di kemudian hari.

Nunu lalu pulang ke Indonesia dengan modal pengalaman spiritual yang luar biasa. Usianya masih muda kala itu, tidak lebih dari 26 tahun. Tapi, kegetiran hidup dan kegersangan spiritual selama di luar negeri telah cukup baginya untuk mengerti tentang hakekat hidup. Dengan jujur ia pun mengatakan bahwa “Di sinilah aku mengalami puncak spiritual.”

Ya, Nunu memulai hidup di Indonesia dengan semangat baru. Tapi, ia belum tahu bagaimana cara mewujudkannya? Selama masa pencarian itu, ia sempat bekerja di berbagai perusahaan. Ia pernah jadi manajer hotel bintang lima dan perusahaan periklanan Leo Burnett Kreasindo selama 6 tahun di berbagai posisi. Bersama sahabatnya, ia pernah mendirikan perusahaan garmen di Bali. Selama hampir 3 tahun ia menjadi Operation Manager Baliku International Group dan sempat memiliki 600 karyawan. Di Bali inilah ia sempat bersinggungan dengan guru spiritual bernama Srisukarata, yang memiliki ribuan pengikut.

Namun, semua kesuksesan itu tetap membuat hati Nunu gersang. Hidupnya merasa tidak bebas. Akhirnya, ia pun kembali teringat dengan konsep dan pemikiran lamanya saat di luar negeri tentang pentingnya spiritualitas. Dengan dukungan sang istri tercinta, Veve Safitri, Nunu pun mendirikan Mind Management Center tahun 1997 yang kemudian berubah menjadi Katahati Institute, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang self and corporate transformation.

Melalui perusahaan barunya ini, doa Nunu selama ini pun mulai terjawab. Sepulang dari luar negeri, Nunu sempat berdoa, “Ya Allah,  jika apa yang aku dapatkan ini diminati dan diperlukan banyak orang, tolong kasih tahu bagaimana cara menjelaskannya?”

Nunu telah menemukan konsep hidup ikhlas selama di luar negeri. Tapi, ia tak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada orang lain. Sebab, ia bukanlah seorang santri, apalagi ulama. Ia hanya sedikit mengerti tentang hakekat hidup. Akhirnya, doa Nunu pun dikabulkan melalui perusahaan yang bergerak di bidang management hati ini.

Puncaknya, Nunu berhasil membuat sebuah buku berjudul Quantum Ikhlas. Melalui buku ini, Nunu ingin menjelaskan bahwa hidup ini harus ikhlas. Ketika ditimpa bencana harus ikhlas, bukan memelas. Saat tidak setuju dengan orang lain, bukan segera memprotes besar-besaran (demo). Tapi juga  bukan berarti hidup itu pasrah. Melalui buku ini pula doa Nunu selama ini semakin ditegaskan.

Ternyata, apa yang disampaikan Nunu lewat karya masterpiece-nya itu diterima oleh khalayak ramai. Banyak orang yang tergugah karena pesan-pesan spiritulitas dari bukunya. Secara tidak langsung, mulailah Nunu menjadi sang penutur “ikhlas”. Efek dominonya, Nunu diundang ke mana-mana untuk memformulasikan hidup ikhlas, berdasarkan kategori pengalaman hidup yang pernah ia lakoni dan pemikiran-pemikiran spiritualitas yang pernah ia dapatkan dari banyak pakar.

Tidak cukup dengan itu, Nunu kemudian melahirkan buku yang kedua berjudul The Science & Miracle of Zona Ikhlas. Sejak itu, semakin lengkaplah klaim “Sang Penutur Ikhlas” pada sosok Nunu. Setiap orang berjuang dan berdakwah melalui genre yang berbeda-beda. Nunu pun demikian. Ia berusaha “belajar bareng” (kalau tidak mau disebut berdakwah) dengan genrenya sendiri, yaitu menebar ilmu ikhlas. Mungkin sebelum Nunu, telah banyak orang yang mengajarkan konsep seperti ini. Tapi, yang secara sistematis dan terus-menerus (kontinyu), barangkali Nunu-lah yang baru melakukannya. Kalau boleh penulis sebut, Nunu telah menciptakan “brand dakwah”-nya sendiri.

Dan Nunu punya impian besar atas pilihan dakwahnya itu. “Saya bermimpi, suatu saat di kafe-kafe dan tempat-tempat dagang ada logo ikhlas.” Entahlah, bagaimana konsepnya? Nunu sedang merumuskannya dan berusaha ia wujudkan di tahun 2010. Salah satunya, mungkin, ketika di café itu ada logo ikhlas, maka para pekerja dan pimpinannya telah bekerja dengan ikhlas. Mereka telah terlatih untuk melayani pembeli dengan ikhlas.

Logo ikhlas ini bisa semacam klaim keberhasilan atas kualitas emosional dan spiritual yang bersangkutan. Seperti halnya logo halal, sebagai sebuah klaim atas kelayakan makanan atau minuman tertentu untuk dikonsumsi secara syariah. Maka cara kerjanya, mungkin, sebelum mendapatkan logo ikhlas, perusahaan tersebut harus diinvestigasi dulu kelayakan emosional dan spiritual setiap pekerja dan pimpinannya. Pekerjaan yang tidak mudah dan bernada sensitif religius tentunya. Tapi, tidak salahnya untuk terus mewujudkannya.

Ikhlas Hidup Sederhana

Ketika kami bertemu di sebuah mal terkenal di Jakarta untuk sebuah wawancara, Nunu berpenampilan cukup sederhana: bersandal dan mengenakan pakaian sepantasnya. Apa yang ia tampilkan saat itu tidaklah sebanding dengan eksistensinya yang kian cemerlang.

Tentu, untuk berpenampilan lebih dari itu, Nunu bisa-bisa saja. Tapi, Nunu berusaha melepaskan segala atribut yang berlebihan itu. “Saya telah melewati masa-masa itu. Bagi saya, masa sekarang, bukanlah mencari nilai materi lagi,” ujarnya.

Bila penulis baca dari sample di atas, tampak Nunu sedang berusaha untuk konsisten bersikap ikhlas. Gaya hidup sederhana itulah yang berusaha terus ia lakoni. Satu hal yang tersisa dari kisah manis Nunu adalah kebiasaannya yang suka pakai sepeda. Hampir setiap hari ia mengendarainya, tak perduli berapa kilo yang harus ia tempuh. Meski capek, tapi ada rasa kebahagiaan tak terkira yang ia dapatkan. Terlebih, ia mendapatkan manfaat kesehatan.

Kebiasaan Nunu ini berawal dari protesnya atas kebijakan pemerintah tentang three in one. Untuk mengurangi asap jalanan yang dapat merusak alam, maka penggunaan mobil diperketat. Aturan semacam ini tetap saja tidak terlalu signifikan. Karena itu, Nunu langsung berpikir kepada akarnya, “Kenapa tidak pakai sepeda saja?”

Ada makna penting tentang pemikiran semacam ini. Ditilik dari segi spiritualias, Nunu sebenarnya ingin menjelaskan kepada kita bahwa segala sesuatu itu harus kembali kepada akarnya, yaitu Tuhan. Saat kita gelisah, kala kita bersedih, maka kita harus ingat kepada Tuhan, Allah azza wa jalla. Kita harus ikhlas menerima segala yang terjadi kepada diri kita. Niscaya hidup pun akan tenang.

Ya, Nunu yang juga anggota Global Spiritual Computing Research Group dan Institute of Noetic Sciences yang berbasis di Amerika Serikat ini telah menemukan formulasi hidup. Atas dasar itu, dirinya berkali-kali diundang banyak perusahaan, seperti BCA, Telkom, Bristol-Myers, Squibb, Allianz, Hilton International, Sol Group Hotel, Bukopin, Tiga Raksa, Gramedia, Trakindo Utama, Infomedia Nusantara, Lowe Lintas, Sekjen DPR dan lain lain, untuk memberikan pencerahan hati-hati yang sedang gersang (Corporate Soul Consultant). Gerakan Penghijauan Hati (Hearth green movement), begitulah kira-kira yang ingin dilakukan Nunu. Ketika hati kita telah hijau, maka hidup ikhlas pasti akan tercapai. Karena itu, hijaukan hati-hati Anda!